Titik Akhir Perdebatan, Lionel Messi adalah Atlet Terbaik Sepanjang Masa

Redaktur

April 11, 2025

6
Min Read

anyak yang mengira masa keemasan Lionel Messi telah pudar di usia 39 tahun. Namun, di panggung Piala Dunia 2026, dia kembali menari dan membungkam keraguan lewat ketajaman serta visi bermain yang melampaui para bintang lebih muda. Dengan konsistensi tak tertandingi selama dua dekade tersebut, sulit membantah kesimpulan bahwa ”La Pulga” adalah atlet pria terbaik sepanjang masa.

Sepak bola adalah permainan yang sangat rumit. Di balik lapangan, teknologi canggih terus merekam jutaan pergerakan bola dan posisi pemain setiap detiknya. Ditambah lagi dengan interaksi antarpemain yang tak terduga serta pantulan bola yang acak, olahraga ini menjadi begitu dinamis dan sulit ditebak. Keindahan yang penuh kejutan itu yang membuat sepak bola sering dianggap sebuah keajaiban yang magis.

Akan tetapi, ada satu sosok yang mampu menyederhanakan semua kerumitan tersebut, dia adalah Messi. Selama 22 tahun karier profesionalnya, Messi telah melakukan hal-hal mustahil yang justru membuat sepak bola lebih mudah dipahami dan terlihat lebih menawan.

Karena itu, Messi tidak terbantahkan untuk dinobatkan sebagai pesepak bola terbaik yang pernah ada. Dia telah menguasai segala aspek paling krusial dalam sepak bola, mulai dari mencetak gol, menciptakan peluang, menggiring bola, mengoper, hingga membaca permainan, bahkan saat dirinya hanya berjalan kaki di lapangan.

Kendati demikian, sebelum Piala Dunia 2026 dimulai, publik sempat meragukan Messi bisa tetap menjadi yang terbaik. Itu karena Messi telah berusia nyaris kepala empat dan hanya bermain di Liga Amerika Serikat (MLS) yang level kompetisinya lebih rendah daripada Eropa dalam tiga tahun terakhir.

Messi bukan hanya pesepak bola terbaik, melainkan atlet terhebat yang pernah ada sepanjang sejarah.

Messi diperkirakan hanya bisa memperlihatkan sisa keajaibannya, bukan lagi menjadi penentu kemenangan Argentina seperti di masa emasnya. Nyatanya, Messi tetap ”bersenang-senang” dengan bola seperti yang biasa dilakukannya. Dia bukan hanya membungkam keraguan, melainkan juga menegaskan bahwa dirinya belum habis.

Analisis keunggulan Messi

Untuk membuktikan klaim Messi sebagai atlet terhebat, tentu butuh bukti nyata, bukan sekadar kenangan atau sentimen emosional pribadi. Maka dari itu, analis data sepak bola Michael Caley coba memberikan penjelasan detail.

Peneliti asal Amerika Serikat itu menyebutkan, Messi adalah wujud dari penggabungan tiga pesepak bola terbaik di eranya. Ketajaman Messi sejajar dengan rival terbesarnya, Cristiano Ronaldo. Namun, Messi menjadi terdepan dalam urusan menciptakan peluang, melebihi Angel Di Maria, Neymar, ataupun Kevin De Bruyne. Dalam urusan mengalirkan bola ke depan, hanya Eden Hazard di masa primanya yang bisa menandingi Messi.

Mengalirkan bola ke depan, menciptakan peluang, dan mencetak gol adalah tiga fase paling krusial dalam sepak bola. Semua unsur itu dikuasai secara mutlak oleh Messi. Pada Piala Dunia kali ini, pemain kelahiran Rosario, Santa Fe, Argentina, itu masih membuktikan semua keunggulannya tersebut.

Memang dirinya tidak lagi mencetak 96 gol dan memberikan 32 asis hanya dalam 69 pertandingan liga seperti masa jayanya di Barcelona. Namun, kualitas Messi di Piala Dunia kali ini tetap melampaui siapa pun. Terbukti, Messi memimpin total percobaan gol dengan 34 tembakan.

Hasilnya, Messi memimpin daftar pencetak gol terbanyak turnamen ini dengan 8 gol dari 7 pertandingan. Hanya penyerang sekaligus kapten Perancis, Kylian Mbappe, yang menyamai perolehan golnya.

Perbandingan dengan olahraga lain

Lalu, bagaimana bisa Messi mengungguli atlet lain dari cabang olahraga berbeda. Itu butuh penjelasan obyektif yang spesifik. Pada dasarnya, kriteria atlet terhebat bukan sekadar pada keunggulan fisik.

Contohnya, tubuh pelari jarak menengah elite dunia sangat berbeda dengan pebasket terbaik Liga Bola Basket Amerika Serikat (NBA). Tentu saja, kemampuan melakukan dunk tidak bisa menjadi tolok ukur atlet itu lebih baik daripada orang yang bisa berlari 1 mil (1,6 kilometer) dalam waktu kurang dari empat menit.

Standar kehebatan sejatinya diukur dari dua hal, yaitu seberapa jauh jarak kualitas atlet terkait dengan pemain terbaik kedua di cabang olahranya, serta seberapa banyak manusia di bumi yang benar-benar bisa memainkan olahraga bersangkutan.

Di sepak bola, Messi adalah yang terbaik di eranya, sebagaimana yang telah dijelaskan. Jika dibandingkan dengan pesepak bola dari era sebelumnya, Messi pun jauh lebih unggul. Legenda Brasil, Pele, dan legenda Argentina, Diego Maradona, mungkin sering diagungkan sebagai pesepak bola terhebat sepanjang masa.

Faktanya, Pele dan Maradona berkarier saat sepak bola belum begitu seglobal dan sekompetitif sekarang. Selain itu, rentang karier dan konsistensi performa mereka jauh lebih singkat daripada Messi, baik di level klub maupun timnas.

Diukur dari raihan prestasi, koleksi penghargaan pribadi dan gelar juara tingkat klub maupun timnas milik Messi jauh lebih lengkap. Jadi, sulit rasanya untuk meragukan dan menggeser posisi Messi sebagai pesepak bola terhebat sepanjang sejarah.

Untuk menentukan atlet yang terhebat, grafik performa dan raihan prestasi Messi harus dibandingkan dengan para bintang atau legenda dari olahraga lain. Ada banyak nama atlet berprestasi dan populer secara global, seperti Michael Jordan dan LeBron James di bola basket, Tom Brady di ”sepak bola” Amerika Serikat, Babe Ruth, Barry Bonds, hingga Shohei Ohtani di bisbol, dan Wayne Gretzky di hoki es.

Sayangnya, semua atlet itu gugur dalam kriteria aksesibilitas global. Hoki es hanya dimainkan di sejumlah negara yang memiliki musim dingin. Bisbol hampir tak dimainkan di Afrika, Eropa, dan sebagian besar Amerika Selatan. ”Sepak bola” Amerika Serikat tentunya hanya dimainkan di negara bersangkutan.

Bola basket tetap tidak bisa mendekati jangkauan sepak bola. Sebuah riset di Australia pada 2022 menemukan, hanya sekitar 5 persen populasi global yang memiliki kapasitas tinggi badan ideal untuk bermain basket.

Sebaliknya, hampir 30 persen penduduk dunia memiliki karakteristik fisik yang cocok untuk bermain sepak bola. Survei lain menunjukkan, jumlah penduduk dunia yang bermain sepak bola mencapai dua kali lipat dari yang bermain basket.

Tenis boleh jadi olahraga lain yang sangat populer. Namun, tenis memiliki akses sangat eksklusif berupa faktor finansial yang menghambat banyak orang untuk menekuni karier profesional. ”Kriket pun cukup populer, tetapi hanya di negara tertentu, seperti Australia, India, dan Pakistan,” ucap O’Hanlon.

Menaklukkan manusia tercepat

Sejauh ini, dari sejumlah studi, hanya ada satu olahraga yang betul-betul bisa menyaingi aksesibilitas sepak bola. Olahraga itu adalah lari cepat (sprint). Sepak bola dan lari adalah dua aktivitas rekreasi paling populer dan mudah untuk dimainkan di seluruh dunia.

Orang-orang hanya butuh bola dan lapangan terbuka untuk memainkan sepak bola. Demikian pula untuk berlari, setiap orang hanya butuh tubuh yang sehat untuk melakukannya. Di lintasan lari, ada satu nama atlet yang bisa menyamai capaian prestasi Messi, yakni Usain Bolt.

Bolt adalah satu-satunya manusia yang memenangi medali emas lari 100 meter dan 200 meter di tiga Olimpiade beruntun. Rekor dunia atlet asal Jamaika itu di dua nomor perlombaan tersebut masih belum tersentuh sejak 2009. Dia pun tercatat sebagai pelari tertua yang memenangi medali emas 200 meter Olimpiade pada 2016.

Akan tetapi, dari sisi durabilitas dan rentang waktu dominasi karier, Bolt tidak bisa melampaui Messi. Bolt memenangi medali emas level dunia pertamanya pada usia 21 tahun dan emas terakhirnya diraih pada usia 29 tahun.

Bandingkan dengan Messi, dirinya meraih penghargaan Pemain Terbaik Dunia atau Ballon d’Or pertamanya pada usia sekitar 21 tahun, tepatnya pada tahun 2009. Messi memenangi Ballon d’Or terakhirnya pada usia 36 tahun atau setahun setelah Argentina menjuarai Piala Dunia 2022.

Hari ini, di usianya yang ke-39, Messi masih membuktikan diri sebagai yang terbaik di panggung terbesar dunia. ”Itu berarti Messi memiliki tambahan waktu 10 tahun berada di level teratas dibandingkan Bolt,” ujar O’Hanlon.

Oleh karena itu, perdebatan mengenai siapa pesepak bola terbaik sepanjang masa sejatinya telah usai. Messi bukan hanya yang terhebat di sepak bola, dia adalah atlet terbaik yang pernah ada dalam sejarah olahraga dunia.

Related Post