KH Hasan Gipo, Tokoh NU yang Nyaris Tak Tersorot

Redaktur

Agustus 17, 2026

4
Min Read

On This Post

Sebagian besar masyarakat, khususnya warga Nahdlatul Ulama, tentu mengenal KH Hasyim Asy’ari sebagai figur sentral NU di masa awal. Namun tidak banyak yang mengetahui bahwa beliau bukan Ketua Umum pertama NU, melainkan menjabat sebagai Rais Akbar. Lantas, siapakah Ketua Umum NU yang pertama?

Tokoh tersebut adalah KH Hasan Gipo. Nama lengkapnya Hasan Basri, lahir di Kampung Sawahan pada tahun 1869 M, tepatnya di kawasan Jalan Ampel Masjid (kini Jalan Kalimas Udik). Ia berasal dari keluarga besar marga Gipo, sehingga nama tersebut disematkan di belakang namanya.

KH Hasan Gipo merupakan dzurriyah Kanjeng Sunan Ampel. Ia dikenal sebagai saudagar yang mengorbankan harta, tenaga, dan pikirannya demi perjuangan NU, mewakafkan diri sepenuhnya untuk kepentingan umat Islam.

Jejak makam beliau sempat nyaris hilang dan tidak dikenali. Padahal, dalam tradisi Nahdliyyin, ziarah ulama memiliki makna penting. Makam KH Hasan Gipo akhirnya berhasil ditemukan dan diberi penanda. Letaknya berada di kompleks pemakaman Kanjeng Sunan Ampel Surabaya, di sisi timur Masjid Ampel, satu area dengan makam Pahlawan Nasional KH Mas Mansur.

Nama Gipo sendiri berasal dari kata Sagipodin, serapan dari bahasa Arab Saqifuddin, yang bermakna pelindung agama. Wilayah tempat tinggal keluarga ini dikenal dengan sebutan Gang Gipo, dan mereka memiliki makam keluarga di sekitar Masjid Ampel.

KH Hasan Gipo merupakan generasi kelima dari dinasti Gipo. Ayahnya bernama H. Marzuki, kakeknya H. Alwi, buyutnya H. Turmudzi yang menikah dengan Darsiyah. Canggahnya adalah Abdul Latief Sagipuddin, perintis dinasti Gipo, yang beristri Tasirah dan memiliki dua belas anak.

Secara silsilah, KH Hasan Gipo juga memiliki hubungan kekerabatan dengan KH Mas Mansur dari Muhammadiyah, karena sama-sama keturunan Abdul Latief Gipo. Hal ini menunjukkan bahwa keluarga Sagipodin memiliki akar kuat baik di lingkungan NU maupun Muhammadiyah.

Lahir dari keluarga berada, KH Hasan Gipo mengenyam pendidikan ala Belanda, namun tetap menaruh perhatian besar pada pendidikan pesantren. Nilai-nilai kesantrian melekat kuat dalam kepribadiannya.

Penunjukan KH Hasan Gipo sebagai Ketua Tanfidziyah NU (dulu disebut Presiden) bukan tanpa alasan. Ia dikenal sebagai sosok langka: menguasai ilmu umum, santri KH Wahab Hasbullah yang cakap membaca dan menulis huruf Latin, serta dekat dengan masyarakat luas.

Penetapannya bermula dari musyawarah kecil pembentukan pengurus NU yang melibatkan tokoh-tokoh dari Ampel, Kawatan, Bubutan, dan wilayah sekitar Surabaya. Dalam forum tersebut, KH Hasan Gipo disepakati sebagai Ketua Tanfidziyah pertama NU.

Saat itu NU masih dalam tahap embrio. Rais Syuriah dijabat KH Said dari Paneleh, Surabaya, KH Hasyim Asy’ari sebagai Rais Akbar Hoofdbestuur Nahdlatoel Oelama, dengan KH Wahab Hasbullah sebagai Katib ‘Am.

KH Hasan Gipo memimpin sekitar tiga tahun. Pada Muktamar ketiga di Semarang, posisinya kemudian digantikan oleh KH Noor dari Sawah Pulo, Surabaya.

Sebagai aktivis dan saudagar yang bermukim di kawasan elite Surabaya, KH Hasan Gipo banyak membantu gerak dakwah KH Wahab Hasbullah. Ia kerap mengantar KH Wahab bertemu tokoh-tokoh pergerakan seperti HOS Cokroaminoto dan Dr. Soetomo. Dari pertemuan itu pula, mereka berkenalan dengan Soekarno, Kartosuwiryo, Muso, dan SK Trimurti, murid-murid Cokroaminoto, yang kelak menjadi tokoh penting pergerakan nasional.

Keterlibatan KH Hasan Gipo semakin intens dalam berbagai forum, termasuk pendirian Nahdlatul Wathan (1914), diskusi Taswirul Afkar (1916), dan Nahdlatut Tujjar (1918). Di forum-forum inilah ia berinteraksi dengan para ulama besar, termasuk KH Hasyim Asy’ari. Saat Komite Hijaz dibentuk dan mengirim utusan ke Makkah, kontribusi KH Hasan Gipo pun sangat signifikan.

Ketika NU resmi berdiri dalam pertemuan yang dipimpin KH Wahab Hasbullah di Bubutan, Surabaya, KH Hasan Gipo langsung ditunjuk sebagai Ketua Tanfidziyah NU. Usulan tersebut mendapat persetujuan penuh dari KH Hasyim Asy’ari.

Di tengah kesibukannya mengurus NU, usaha dagang KH Hasan Gipo terus berkembang, bahkan merambah ke sektor properti. Ia memiliki perumahan, pertokoan, dan gudang, yang sebagian hasilnya menjadi sumber donasi besar bagi NU.

Selain kecerdasan intelektual, KH Hasan Gipo juga dikenal berani secara fisik. Ia pernah menantang Muso, tokoh PKI, untuk berdebat teologi karena gerah dengan sikap ateistisnya. Muso yang dikenal piawai berpidato akhirnya tak mampu menandingi argumen KH Hasan Gipo. Bahkan ketika ditantang berkelahi, Muso memilih mundur.

KH Hasan Gipo wafat di Surabaya pada tahun 1934 M. Hingga kini, banyak orang yang masih asing dengan namanya, terlebih ketika disebut sebagai Ketua Tanfidziyah pertama NU. Hal ini karena publik lebih mengenal KH Hasyim Asy’ari sebagai Rais Akbar NU.

“Makama beliau baru ditemukan beberapa tahun terakhir, satu kompleks dengan KH Mas Mansur. Kiai Hasan Gipo adalah teladan ketulusan, khumul, dan tidak mencari popularitas. Saking rendah hatinya, makamnya pun lama tak dikenal,” tutur Husain, warga Ampel.

Related Post