Pendidikan merupakan hal yang perlu bagi suatu bangsa. Jika bangsa ingin maju, maka pendidikan juga harus bisa dinikmati semua orang. Ada satu tokoh yang konsen dalam isu pendidikan yaitu Gus Dur. Artikel ini akan membahas tentang pemikiran Gus Dur tentang pendidikan.
Di balik bangkitnya suatu bangsa harus didukung oleh aspek-aspek yang menjadi faktor pemicunya, seperti aspek ekonomi, sosial, budaya dan IPTEK (ilmu pengetahuan dan teknologi). Aspek-aspek di atas menjadi sangat penting dan harus didukung oleh orang-orang yang memiliki potensi yang mumpuni, sehingga kita mampu mengimbangi perkembangan peradaban saat ini dan seterusnya.
Aspek pendidikan adalah salah satu aspek yang paling utama sebagai usaha untuk menjadikan sebuah bangsa yang berkualitas. Indonesia saat ini mulai berkembang dalam peningkatan mutu pendidikan yang berkualitas, sehingga menghasilkan output yang berkualitas pula. Dalam peningkatan mutu pendidikan, sudah pasti memiliki tujuan utama bagi Indonesia yaitu, mencerdaskan kehidupan bangsa dan membangun peradaban yang berkelas.
Tentu saja, signifikansi pendidikan juga menjadi titik perhatian dalam ajaran Islam. Islam menempatkan pendidikan dalam posisi yang sangat vital. Indikasinya sangat jelas, yaitu lima ayat pertama al-Qur’an surah Al-Alaq [96]: 1-5 yang berisi perintah membaca (termasuk juga ayat al-Qur’an yang banyak memberikan prinsip berkenaan dengan pendidikan Islam terdapat dalam surah Luqman [31]: 12-19).
Selain itu, ada puluhan ayat yang menekankan pentingnya berpikir, meneliti, dan memahami realitas secara keseluruhan. Bagi Islam, ilmu adalah syari’at sekaligus tujuan agama ini. Pernyataan ini jelas-jelas menunjukkan penghormatan dan penghargaan Islam terhadap ilmu.
Jika dianalogikan secara lebih jauh, ilmu tidak akan bisa diperoleh secara maksimal kecuali lewat jalur pendidikan. Selaras dengan pernyataan Abdurrahman An-Nahlawi yang menyebutkan, bahwa tujuan terpenting dari diturunkannya al-Qur’an adalah untuk mendidik manusia.
Secara tidak langsung, An-Nahlawi ingin mengatakan bahwa manusia adalah makhluk yang dapat dididik (homoeducable) dalam makna luas. Dengan demikian, jelas bahwa Islam adalah agama yang sangat memberikan penekanan kepada umatnya untuk menuntut ilmu.
Tak hanya itu, pendidikan Islam pada hakikatnya adalah proses perubahan menuju ke arah yang positif. Dalam konteks sejarah, perubahan yang positif ini adalah jalan Tuhan yang telah dilaksanakan sejak zaman Nabi Muhammad Saw. Pendidikan Islam dalam konteks perubahan ke arah yang positif ini, identik dengan kegiatan dakwah yang biasanya dipahami sebagai upaya untuk menyampaikan ajaran Islam kepada masyarakat.
Sejak wahyu pertama diturunkan dengan ayat pertama yang berbunyi iqra’ (bacalah), maka pada saat itu juga, pendidikan Islam secara praktis telah hadir dalam kehidupan umat Islam. Adalah sebuah proses pendidikan yang melibatkan dan menghadirkan Allah Swt. Dengan demikian, membaca merupakan sebuah proses pendidikan yang dilakukan dengan memulai menyebut nama Allah Swt. mengharap ridho-Nya.
Yang tak kalah pentingnya untuk dicatat adalah, bahwa dalam dinamika perkembangan dunia pendidikan, kita tidak hanya berfokus pada kurikulum dan peraturan-peraturan pendidikan saja, tapi juga kita mampu melihat rekam jejak tokoh-tokoh pendidikan yang telah berkontribusi pada perkembangan pendidikan, khususnya di Indonesia.
Pemikiran Gus Dur tentang Pendidikan
Ada banyak sekali tokoh pendidikan yang telah berkontribusi dalam perkembangan dunia pendidikan di Indonesia. Banyak juga tokoh-tokoh pendidikan yang ahli dalam bidang lain juga seperti bidang politik, filsafat dan lain-lain.
Salah satu dari sekian banyaknya tokoh tersebut adalah Abdurrahman Wahid atau biasa disapa “Gus Dur”. Gus Dur adalah salah satu tokoh yang sangat berpengaruh di Indonesia. Gagasannya mengenai demokrasi dan pluralismenya sangat kuat hingga menjadi acuan para tokoh lain yang mengikutinya.
Meski demikian, Gus Dur sering juga mendapat kritikan dari orang-orang yang tidak menyukainya. Hal yang membuat banyak pihak tidak menyukainya adalah karena pemikiran Gus Dur yang sering dianggap “ngawur” dan dengan gaya bicaranya yang “ceplas-ceplos” menjadi pemicunya.
Akan tetapi, Gus Dur bukanlah sosok yang lemah dan mudah menyerah, dia sangat gigih memperjuangkan gagasan dan kontribusinya terhadap kaum yang tertindas dan didiskriminasi oleh pemerintahan dan kondisi masyarakat saat itu.
Pemikiran Gus Dur tentang Pendidikan Islam sekarang
Yang jelas, melalui pemikirannya, Gus Dur melihat bahwa pendidikan Islam di Indonesia saat ini masih dirasa belum terlihat dampaknya. Menurutnya, pendidikan Islam bukan hanya menjadi salah satu mata pelajaran di sekolah saja, tetapi juga melalui pendidikan Islam, para santri atau siswa diperkenalkan dengan nilai-nilai keislaman yang erat kaitannya dengan kehidupan sehari-hari, yang pada akhirnya para peserta didik dapat mengimplementasikannya dalam kehidupan sehari-hari.
Selain itu, pendidikan Islam juga merupakan wadah bagi peserta didik dalam mencari jawaban persoalan-persoalan yang bersifat filosofis dan isu-isu sosial. Karena dinamika masyarakat Indonesia yang kental dengan aspek sosial-budaya.
Dalam konteks berbicara tujuan pendidikan Islam, Gus Dur menegaskan bahwa pendidikan Islam sangat bersinggungan sekali dengan kehidupan sosial masyarakat, sehingga pendidikan Islam diharapkan dapat menjadi jawaban terhadap persoalan yang terjadi di masyarakat. Gus Dur juga melihat bahwa pendidikan pada hakikatnya adalah cara manusia dalam mengenali Tuhannya, dirinya, dan alam sekitar.
Dikatakan demikian, karena dengan pendidikan Islam, para santri dan siswa dapat memahami apa yang terjadi dan mengenali potensi yang ada dalam dirinya. Pendidikan Islam seolah menjadi cerminan jiwa. Bahwa dengan hasil pendidikan, para santri dan siswa dapat mengoptimalkan dirinya menjadi lebih baik termasuk bakat yang ada dalam peserta didik.
Kemudian mengenai kurikulum, Gus Dur berpandangan bahwa kurikulum merupakan alat atau komponen penting dalam proses pembelajaran. Seperti dalam pengertiannya, kurikulum adalah kerangka substansi pembelajaran yang berisikan tujuan, materi, metode pembelajaran, dan lainnya. Dalam pandangannya, pesantren merupakan institusi pendidikan yang cocok diterapkan di Indonesia.
Dilihat dari akar sejarahnya, pesantren sudah ada sejak kerajaan Hindu dan Budha jauh sebelum Indonesia berbeda. Namun, tentu ada perbedaan dengan pesantren yang dimaksud oleh Gus Dur. Artinya, pesantren sudah terlihat eksistensinya sejak lama sekali. Selain itu, pesantren juga memiliki kaitan yang sangat erat dengan proses perkembangan sosial dan budaya Indonesia terkhusus di Jawa.
Pesantren secara tidak langsung dinamakan dengan subkultur, karena pesantren memiliki beberapa unsur yang dikategorikan dalam subkultur. Seperti keunikan materi yang menggunakan kitab kuning, peran kyai dalam membangun santri dan masyarakat sekitar pesantren, dan juga organsisasi yang terdapat lingkungan pesantren.
Dengan demikian, pesantren memiliki banyak aspek yang dapat dikatakan paket lengkap dalam pengembangan kurikulum saat ini. Sebab, karena terdiri dari komponen materi yang lengkap, struktur organisasi yang baik dan memberikan peran bagi perkembangan masyarakat sekitar.
Upgrade Perkembangan Zaman
Poin terakhir, Gus Dur juga menyampaikan bahwa pesantren juga harus terus di upgrade
mengikuti perkembangan zaman yang semakin modern, sehingga pesantren tidak hanya dipandang institusi pendidikan yang tradisional saja, tetapi juga mampu menghasilkan output yang memiliki bekal yang baik.
Sementara itu, tentang metode pendidikan Islam, pada dasarnya Gus Dur tidak memberikan aturan atau metode yang baku, karena menurutnya metode merupakan cara penyampaian guru dalam pembelajaran. Namun, yang perlu diperhatikan adalah bagaimana guru dapat menyesuaikan dengan kondisi peserta didik, baik kondisi psikologis dan sosiologisnya.
Landasan utama dalam menggunakan metode pembelajaran menurut Gus Dur adalah sampainya materi pembelajaran kepada para santri dan siswa dengan baik. Siswa juga perlu diajak untuk memahami yang bersifat kontekstual agar siswa terampil dalam memecahkan masalah yang riil atau nyata.
Dan yang paling penting adalah dalam proses pembelajaran seorang guru harus memberikan materi yang berasal dari sumber utama seperti kitab kuning. Hal demikian karena Gus Dur ingin santri dan siswa tidak hanya memahami teori yang dipelajari di kelas saja, tetapi juga mengetahui dari mana teori itu berasal. Sehingga santri dan siswa memiliki landasan teori yang kuat.
Pada akhirnya, pendidikan Islam diharapkan menjadi tumpuan terhadap kemajuan bangsa. Pendidikan Islam menjadi sarana untuk memberikan pesan positif bagi perkembangan kehidupan manusia. Dengan diberikannya materi-materi pendidikan di sekolah dan pesantren, maka santri dan siswa dapat benar-benar mengkristalisasikan nilai-nilai luhur pendidikan Islam.
Dengan demikian, cita-cita dan hasil pendidikan Islam dapat terealisasikan jika komponen-komponen pendidikan dilakukan dengan baik. Juga, kuatnya kerjasama guru dan stakeholder lainnya dalam mengawasi dan mendidik perkembangan para peserta didik, baik aspek spiritual dan aspek sosialnya.
Demikian pemikiran Gus Dur tentang pendidikan. Semoga bermanfaat. Wallahu a’lam bisshawaab.




